Free S M S :

Kamis, 31 Mei 2012

Mas Wahyu Subakdiono, Ketua PSHT Cabang Bojonegoro Hidup Dan Menghidupi


Mas Wahyu Subakdiono, Ketua PSHT Cabang Bojonegoro
Hidup Dan Menghidupi

“Goleko urip ojo lali sangune mati” itulah kalimat wejangan dari Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Mas Tarmadji Boedi Harsono (Mas Madji), yang selalu diugemi Wahyu Subakdiono dalam menjalani kehidupannya. Dan wejangan itu pula yang kemudian membentuk karakter dan prinsip hidupnya, bahwa selagi masih hidup, manusia tidak boleh berhenti dan harus terus berkarya. “Manusia itu sudah terlanjur hidup, harus mencari hidup, agar hidup bisa menghidupi, baik diri sendiri, keluarga dan sumrambah kepada orang lain,” terang Mas Wahyu.

Wahyu mulai mengenal seni pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate, sejak usia remaja, tepatnya pada tahun 1973, namun tindak sampai tuntas, karena harus hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah. Di Ibukota Wahyu mengenyam pendidikan di LPKAJ (sekarang IKJ – Institut Kesenian Jakarta-red) itupun juga tidak sempat selesai, karena ditentang oleh pamannya.
Lalu pada tahun 1978, Wahyu pulang ke Bojonegoro, karena meskipun kedua orang tuanya  tinggal di Madiun, tetapi banyak keluarganya yang berdomisili di Bojonegoro. Meski sempat bergumul dengan kehidupan metropolitan, ternyata keinginan Wahyu muda untuk belajar seni beladiri pencak silat masih belum padam. Lalu pada sekitar awal tahun 1979, Wahyu memutuskan untuk kembali berlatih pencak silat. Karena pada saat itu di Bojonegoro, belum ada tempat latihan SH Terate , Wahyu mengikuti latihan di Ngawi.
Selama mengikuti latihan silat di SH Terate, Wahyu muda yang dipenuhi dengan gelora pemberontakan berobsesi menjadi seorang pendekar pilih tanding yang mempunyai kesaktian. Namun betapa kecewanya ia ketika pada tahun 1981 disyahkan sebagai pendekar SH Terate, kesaktian yang dia dambakan tidak didapatkan.
Memang semula Wahyu berangapan, bahwa dengan mengikuti latihan pencak silat SH Terate, dia akan mendapatkan ilmu kanuragan, yang diartikannya sebagai sebuah kesaktian. Dia baru mendapatkan pencerahan tentang hakekat ilmu SH Terate, saat Wahyu melakukan silaturahmi kepada tokoh-tokoh sepuh SH Terate, daintaranya RM. Imam Koesoepangat, Mas Tarmadji Boedi Harsono, dan Mas Murhandoko di Madiun, hingga ke Malang untuk meminta wejangan dari Mas Harsono, putra pendiri PSHT, Ki Hadjar Hardjo Oetomo.
Setelah mendapat wejangan dari para tokoh PSHT, barulah Wahyu menyadari bahwa kesaktian yang didapatkan dari pelajaran SH Terate bukanlah kesaktian seperti pada film-film laga, tetapi kesaktian dalam menyadari makna hidup dan kehidupan. “Jika kita mampu menjalani hidup dengan penuh kesadaran, maka kita akan mampu bertahan dalam setiap cobaan. Hal itu seperti diwejangan oleh Mas Imam Koesoepangat, Sepiro gedene sengsoro yen tinompo among dadi coba,” terang Wahyu.
Setelah mendapat wejangan dari para tokoh PSHT dan benar-benar memahami tentang hakekat ilmu SH Terate. Pada tahun 1981, Wahyu  mulai menyambung silaturahmi dengan sedulur-sedulur PSHT yang ada di Bojonegoro. Akhirnya bersama Mas Suryono BEI, Mas Sutrisno, dan Mas Sriyanto, Mas Wahyu mulai membuka tempat-tempat latihan di beberapa desa dan kecamatan,  lalu merintis mendirikan cabang SH Terate di Bojonegoro.
            Upaya Wahyu dan warga SH Terate lainnya untuk membangun organisasi PSHT di Bojonegoro yang mantap dan diperhitungkan, bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan, berbagai tantangan dan persoalan social muncul, namun berkat istiqomah dan berpegang pada prinsip-prinsip ajaran SH Terate yang lebih mengedepankan persaudaraan, semua masalah yang muncul dapat diselesaikan dengan damai.
            Meskipun menjadi salah satu pemrakarsa terbentuknya PSHT di Bojnegoro, Wahyu mengawali kiprah dalam organisasi PSHT Bojonegoro, mulai dari bawah. Yakni menjadi pengurus Ranting, kemudian dipercaya oleh saudara-saudara seperguruannya untuk menjadi Ketua Ranting Kota, lalu masuk dalam jajaran pengurus cabang, menjadi wakil ketua I, sekretaris, dan pada 2003 dipercaya untuk menjadi Ketua Cabang PSHT Bojonegoro hingga saat ini. Hal itu sesuai dengan wejangan orang tuanya yaitu R. Djiwoto yang selalu mengingatkan bahwa perjalanan hidup seorang manusia itu untuk mencapai kemulyaan harus mulai proses dari bawah.
            Saat awal-awal menjadi Ketua Cabang PSHT Bojonegoro, Wahyu mencoba membuat berbagai inovasi dan terobosan-terobosan untuk lebih membesarkan organisasi PSHT di Bojonegoro. Untuk melakukan itu, program pertama yang dilakukan Wahyu adalah menidentifikasi masalah yang terjadi baik di internal organisasi PSHT Bojonegoro, maupun masalah secara umum yang melibatkan PSHT Bojonegoro.
            Dari hasil indentifikasi masalah itulah kemudian Wahyu, menyusun visi organisasi PSHT Bojonegoro, yakni; Menuju Pencitraan PSHT Bojonegoro yang lebih baik, Berprestasi, Mandiri, Sejahtera dan Berkarakter. Untuk menwujudkan visi tersebut, Wahyu mempunyai gagasan untuk membentuk pusat komunikasi antara ranting dengan cabang. Hal ini penting, karena menurut Wahyu, komunikasi adalah kunci dalam menyelesaikan persolan yang ada.
            Untuk mendorong agar tercipta komunikasi yang intens, maka dibangunlah sebuah gedung sekretariat yang representative dan nyaman, maka dibangunlah gedung secretariat SH Terate Bojonegoro yang megah. Berdirinya gedung secretariat yang megah itu tidak lepas dari kepiawaian Wahyu dalam mengelola sumber dana yang dimiliki PSHT Bojonegoro.
            Wahyu menyadari bahwa potensi yang dimiliki PSHT Bojonegoro cukup besar, jika itu tidak dikelola dengan mamagemen yang baik, tentu akan menjadi sia-sia. Setiap tahun masyarakat Bojonegoro yang bergabung dengan SH Terate semakin banyak, dan siswa yang disyahkan menjadi warga PSHT setiap tahun juga selalu mengalami penikingkatan hingga mencapai angka ribuan, hal itu tentu membuat kas organisasi menjadi semakin besar.
            “Dari kas yang bersumber dari siswa SH Terate itulah gedung SH Tertae ini dibangun, jadi pada prinsipnya gedung SH Terate ini milik masyarakat Bojonegoro, karena bersumber dari siswa yang notabene adalah warga masyarakat Bojonegoro, bukan hanya warga SH Terate,” terang Wahyu.
            Wahyu menekankan, bahwa pendapatan SH Terate berasal dari masyarakat, maka sebesar-besarnya harus bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Dari itulah maka diwujudkan sebuah gedung PSHT yang berdiri di atas lahan 2.400 meter persegi, dengan berbagai fasilitas di dalamnya, diantaranya adalah lapangandi belakang gedung yang juga bisa dimanfaatkan untuk olah raga futsal dan  ruang pertemuan atau hall yang berada di lantai II.
            Wahyu merasa bukanlah manusia sempurna, yang tidak pernah salah dan gagal. Namun terlepas dari segala kelemahannya, terbukti Wahyu Subakdiono, mampu membawa PSHT Bojonegoro menjadi sebuah organisasi yang cukup diperhitungkan, tidak saja di dunia persilatan tetapi juga sektor lainnya. Meski demikian, penggarapan di sektor ideal dalam bentuk penyebaran ajaran budi luhur lewat Persaudaraan Setia Hati Terate tetap menjadi prioritas kebijakan. Dan hasilnya, sejak mengemban amanah sebgai Ketua Cabang, perkembangan jumlah siswa dan warga PSHT selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hingga saat ini jumlah anggota PSHT di Bojonegoro mencapai sekitar 45 ribu orang.
            Untuk meningkatkan kualitas dan wawasan SDM pengurus PSHT, mulai dari ranting hingga cabang di luar ajaran ke-SH-an, Wahyu secara rutin melakukan pelatihan kapasitas angota dengan menghadirkan nara sumber yang berkopenten di bidangnya, misalnya masalah pemahaman hukum, ilmu kemasyarakatan, kewirausahaan dan lain-lain.
            Dari hasil itu, terbentuklah berbagai paguyuban, forum dan lembaga yang bernaung di bawah organisasi besar Persaudaraan Setia Hati Terate, diantanya adalah, Paguyuban Pamong Praja Warga Terate Bojonegoro (Pawojo), yang terdiri dari warga SH Terate yang menjabat sebagai Kepala Desa dan Perangkat desa, Forum Komunikasi Intelektual Terate, Pasukan Pengaman Internal (Paspanter), dan Lembaga keuangan Koperasi Setia Hati Terate (Sehat).***

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More